Feeds:
Posts
Comments

Tidak terasa waktu berlalu begitu cepatnya. 10 tahun yang lalu 26 Desember 2004 terjadi bencana dahsyat Tsunami aceh yang telah menelan ratusan ribu jiwa dan ratusan ribu orang harus mengungsi.

Menyambung tali silaturahim merupakan salah satu kewajiban seorang Muslim, sedangkan memutusnya termasuk dosa besar. Silaturahim memiliki keutamaan yang sangat besar, selain di dunia dan juga kelak di akhirat. Allah SWT dan Rasulullah SAW menjanjikan pahala yang sangat besar bagi Muslim yang bersilaturahim.

Orang yang gemar bersilaturahim pun akan mendapatkan manfaat yang tak terhingga dalam kehidupan sehari-hari. Rasulullah SAW mengungkapkan, orang yang suka dan gemar bersilaturahim akan di luaskan rezekinya dan dipanjangkan usianya.

Nabi SAW bersabda, ‘’Barang siapa yang suka apabila Allah membentangluaskan rezeki banginya dan memanjangkan umurnya, maka hendaklah ia bersilaturahim. (HR Bukhari). Kebenaran hadis itu telah dibuktikan melalui hasil penelitian ilmiah yang dilakukan Dr Rachel Cooper, dari Dewan Penelitian Medis.

Hasil penelitian yang dipublikasikan dalam British Medical Journal itu menyebutkan bahwa orang yang suka bersalaman dan bersilaturahim lebih panjang usianya. Menyambung tali silaturahim pun sangat diperintahkan kepada setiap umat yang beriman.

Rasulullah SAW bersabda, ‘’…Barang siap yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahim…’’ (HR Bukhari). Nah, agar silaturahim bisa memberi manfaat dunia dan akhirat, maka adab-adabnya perlu diperhatikan.

Apa sajakah adab silaturahim yang harus diperhatikan seorang Muslim? Syekh Abdul Azis bin Fathi as-Sayyid Nada dalam kitab Mausuu’atul Aadaab al-Islamiyah merinci adab-adab silaturahim yang sesuai dengan tuntunan Alquran dan sunah. Berikut adalah adab bersilaturahim:

Niat yang baik dan ikhlas
‘’Allah tak menerima amal kecuali dilakukan dengan ikhlas. Maka wajib bagi siapapun mengikhlaskan niatnya kepada Allah SWt dalam menyambung tali silaturahim. Janganlah, seseorang bersilaturahim dengan tujuan riya,’’ ungkap Syekh Sayyid Nada.

Mengharap pahala
Menurut Syekh Sayyid Nada, hendaknya seorang Muslim bersilaturahim untuk menentikan dan mengejar pahala, sebagai mana yang telah Sang Khalik janjikan. Untuk itu, hendaknya seseorang yang bersilaturahim menunggu balasan yang setimpal dari manusia.

Memulai silaturahim dari yang terdekat
‘’Semakin dekat hubungan rahim, maka semakin wajib menyambungnya,’’ ungkap Syekh Sayyid Nada. Perkara ini, kata dia, perlu diperhatikan setiap Muslim dalam menyambung tali silaturahim.

Mendahulukan silaturahim dengan orang yang paling bertakwa kepada Allah SWT
Semakin bertakwa seorang karib kerabat kepada Allah SWT atau semakin bagus agamanya maka semakin besar pula haknya dan semakin bertambah pahala bersilaturahim dengannya. Meski begitu, kata Syekh Sayyid nada, silaturahim juga dianjurkan kepada karib kerabat yang kafir dan tidak saleh, dengan tujuan untuk mengajak pada jalan kebenaran.

Mempelajari nasab dan mencari-cari kerabat yang bersambung kepada seseorang dari kerabat jauh
Ada sebagian orang, kata Syekh Sayyid Nada, yang merasa cukup bersilaturahim dengan saudara-saudaranya saja, kemudian meninggalkan selain mereka. Ada pula sebagian orang yang bersilaturahim dengan orang yang ia kenal saja, tak begitu peduli terhadap karib kerabat jauhnya. Padahal, mereka sebenarnya juga berhak untuk disambung tali silaturahimnya.

Nabi SAW bersabda, ‘’Pelajarilah nasab-nasab kalian yang denga itu kalian dapat menyambung tali silaturahim. Sebab, menyambung silaturahim dapat mendatangkan kasih saying dalam keluarga, mendatangkan harta, dan memanjangkan umur.’’ (HR at-Tirmidzi).

Tak henti menyambung silaturahim dengan orang yang memutusnya
Rasulullah menganjurkan agar seorang Muslim tetap berupaya menyambung tali silaturahim dengan karib kerabatnya, walaupun mereka selalu berupaya memutusnya. Menurut Nabi SAW, upaya orang tetap menyambung tali silaturahim akan senantiasa mendapat pertolongan dari Allah SWT.

Memulai dengan bersedekah dan berbuat baik kepada kerabat yang membutuhkan
Nabi SAW bersabda, ‘’Sebaik-baiknya sedekah adalah sedekah yang diberikan kepada karib kerabat yang benci.’’ (HR Al-Hakim).

Kedelapan, menahan gangguan terhadap karib kerabat
Seorang Muslim seharusnya tak menyakiti karib kerabatnya, baik dengan perkataan maupun perbuatan, dan menjaga perasaan mereka sebisa mungkin.

Kesembilan, menumbuhkan rasa gembira pada karib kerabat
Menurut Syekh Sayyid Nada, sebisa mungkin hendaknya seseorang saling mengunjungi satu sama lain, terutama pada hari Id dan pada saat-saat tertentu.

sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/khazanah/12/01/09/lxi4no-inilah-adab-silaturahim-menurut-islam-bag-2habis

Puasa secara etimilogi (bahasa) adalah menahan dari segala sesuatu, seperti menahan makan, minum, nafsu, menahan berbicara yang tidak bermanfaat dan sebagainya. Sedangkan secara terminologis (istilah) puasa adalah menahan diri dari suatu yang membatalkanya, satu hari lamanya, mulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat dengan beberapa syarat.

Allah SWT berfirman : “…dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam…” (QS. Al Baqarah : 187). Rosululloh juga menjelaskan dalam sebuah hadist “Dari Ibnu Umar R.A, Ia berkata : saya telah mendengan Nabi Muhammad SAW bersabda : apabila malam dating, siang lenyap, dan matahari telah terbenam, maka sesungguhnya telah datang waktu berbuka bagi prang yang berpuasa.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih).

Puasa Ramadhan merupakan puasa yang wajib dilakukan oleh mukallaf selama bulan ramadhan (bulan 9 hijriyah) dan termasuk rukun islam yang ketiga. Puasa ramadhan dimulai dengan ketentuan sebagai berikut :
• Melihat bulan (ru’yatul hilal)
• Dengan ilmu hisab atau informasi dari ahli hisab.
Kedua ketentuan diatas seperti dalam hadist berikut : “Ibnu Umar telah menceritakan bahwa Rosululloh SAW bersabda : apabila kamu melihat bulan (dibulan Ramadhan), hendaklah kamu berpuasa, dan apabila kamu melihat bulan (sibulan syawal), hendaklah kamu berbuka. Maka jika tertutup (mendung) antara kamu dan tempat terbit bulan, hendaklah kamu kira-kirakan bulan itu (HR. Bukhari, Muslim, Nasa’I, dan Ibnu Majah)”.

A.Syarat Wajib Puasa
Seseorang wajib melaksanakan ibadah puasa ramadhan dengan syarat-syarat sebagai berikut :
1.Berakal, artinya orang gila tidak wajib berpuasa
2.Baligh (bagi laki-laki telah mimpi, bagi perempuan telah datang haidz, atau telah berumur 15 tahun keatas).
Sabda Rosululloh SAW “ tiga orang terlepas dari hukum : (a) orang yang sedang tidur hingga ia terbangun, (b) orang gila sampai ia sembuh, (c) kanak-kanak sampai ia baligh”. (HR. Abu Dawud dan Nasa’i).
– Kuat berpuasa.
– Tidak dalam perjalanan.
Firman Allah SWT …dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi Makan seorang miskin…(QS. Al Baqarah : 184)”
“…Barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan Barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu…(QS. Al Baqarah : 185)”

B.Syarat Sah Puasa
Syarat-syarat sah puasa adalah :
1.Islam, selain orang islam tidak wajib berpuasa
2.Mumayiz (dapat membedakan antara yang baik dan yang buruk)
3.Suci dari darah haid (kotoran) dan nifas (darah setelah melahirkan). Orang yang sedang haid dan nifas tidak sah berpuasa, tetapi keduanya wajib mengqadha (membayar) puasa yang tertinggal.
“Dari A’isyah, dia berkata, Kamu disuruh Rosululloh SAW mengqadha puasa, dan tidak disuruhnya untuk mengqadha shalat.” (HR. Bukhari).
4.Dalam waktu yang diperbolehkan puasa.
“Dari Anas, Nabi SAW telah melarang berpuasa lima hari dalam satu tahun : (a) Hari Raya Idul fitri, (b) Hari Raya Idul Adha, (c) tiga hari tasyrik (11, 12, dan 13 Dzulhijjah).” (HR. Daruqutni).

C.Fardhu (rukun) Puasa
1.Niat pada malamnya, yaitu setiap malam selama bulan ramadhan, yang dimaksud dengan malam puasa adalah malam yang sebelumnya.
“Sabda Rosululloh SAW, barang siapa yang tidak berniat puasa pada malamnya sebelum fajar terbit, maka tiada puasa baginya.” (HR. Lima ahli hadist)
Kecuali puasa sunnah, boleh berniat pada siang hari, asal sebelum zawal (matahari condong ke barat)
“Dari A’isyah, pada suatu hari Rosululloh SAW datang (ke rumah saya), Beliau bertanya, adakah makanan padamu?, saya menjawab, tidak ada apa-apa, Beliau lalu berkata, kalau begitu baiklah, sekarang saya puasa, kemudian pada hari lain beliau datang lagi, lalu kami berkata, ya Rosululloh, kita telah diberi hadiah kue haisun, Beliau berkata, mana kue itu?Sebenarnya Saya dari pagi berpuasa. Lalu beliau makan kue itu.” (HR. Jama’ah ahli hadist, kecuali Bukhari).
2.Menahan diri dari segala yang membatalkan puasa sejak terbit matahari sampai terbenam matahari.

D.Hal-hal yang Membatalkan Puasa
Terdapat enam perkara yang membetalkan buasa :
1.Makan dan minum, batal jika dilakukan dengan sengaja. Jika tidak sengaja, seperti lupa tidak membatalkan.
Firman Allah SWT “….dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar…. ” (QS. Al Baqarah : 187)
Hadist Rosululloh SAW “Barang siapa lupa, sedangkan ia dalam keadaan puasa, kemudian ia makan dan minum, maka hendaklah puasanya disempurnakan, kerena sesungguhnya Allah-lah yang memberinya makan dan minum” (HR. Bukhari & Muslim). Selain itu sebagian ulama’ berpendapat bahwa memasukkan sesuatu dengan sengaja pada lubang diseluruh anggota badan hukumnya juga membatalkan puasa. Hal ini berdasarkan qias (permisalan). Memasukkan ke dalam lubang sama dengan makan dan minum. Sebagian ulama lain tidak membatalkan karena tidak dapat diqiaskan dengan makan dan minum. Akan tetapi untuk kehati-hatian untuk tidak memasukkan sesuatu pada seluruh lubang di badan. Kecuali jika terpaksa seperti tranfusi darah, suntik dsb.
2.Muntah yang disengaja, sekalipun tidak ada yang kembali ke dalam, jika dilakukan dengan sengaja tetap membatalkan puasa.
Sabda Rosululloh SAW : “Dari Abu Hurairah ra. Rosululloh SAW bersabda : barang siapa terpaksa muntah, tidak wajib mengqadha (mengganti) puasanya, dan barang siapa yang mengusahakan muntah, maka hendaklah hendaklah dia mengqadha puasanya” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan Ibnu Hibban)
3.Bersetubuh, kecuali malam hari pasangan suami istri dilarang bersetubuh saat bulan ramadhan.
Firman Allah SWT : “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu…” (QS. Al Baqarah : 187) ”.
Bukan hanya dilarang dan mengqada, namun jika hal ini tetap dilaksanakan maka wajib membayar khifarat (denda). Kifaran bersetubuh di siang bulan ramadhan terdapat tiga tingkatan berdasar kemampuan : (a) memerdekakan hamba, (b) jika tidak sanggup memerdekakan hamba/sudah tidak ada hamba (budak) maka harus berpuasa berturut-turut, (c) jika tidak kuat maka memberi makan 60 orang miskin, tiap-tiap orang sebanyak ¾ Liter makanan pokok.
Hadist Rosululloh SAW “Seorang laki-laki datang kepada Rosululloh SAW. ia berkata :”Celaka saya, ya Rosululloh”. Nabi SAW. bersabda :”Apakah yang mencelakakan engkau?”. Jawab laki-laki itu :”Saya telah bersetubuh dengan istri saya pada siang hari ramadhan”. Rosululloh SAW bersabda :”Sanggupkah engkau memerdekakan hamba?”. Jawab laki-laki itu :”Tidak”.Rosululloh SAW bersabda :”kuatkah engkau berpuasa dua bulan berturut-turut?”. Jawab laki-laki itu :”Tidak”. Rosululloh bersabda :”Adakah engkau mempunyai makanan guna member makan 60 orang miskin?”. Jawab laki-laki itu :“Tidak”. Kemudian laki-laki itu duduk, maka diberikan kepada laki-laki tersebut oleh Rosululloh, sebakul besar berisi kurma, Rosululloh SAW bersabda :”Sedekahkanlah kurma itu”. Kata laki-laki itu: “Kepada siapakah?, Kepada yang lebih miskin dari saya? Demi Allah, tidak ada penduduk kampung ini yang lebih memerlukan makanan selain dari seisi rumah ””
4.Keluar darah haid (kotoran) atau nifas (darah sehabis melahirkan).
Hadist Rosululloh SAW : “Dari A’isyah, ia berkata : Kami disuruh oleh Rosululloh SAW mengqadha puasa, dan tidak disuruh untuk mengqadha shalat”. (HR. Bukhari)
5.Gila, jika gila itu datang siang hari, maka puasa itu batal
6.Keluar sperma dengan sengaja (karena bersentuhan dengan wanita, menggunakan tangan atau cara lainya). Karena keluar sperma adalah puncak yang dituju orang pada persetubuhan, maka hukumnya sama dengan bersetubuh disiang hari. Adapun jika keluar saat mimpi, berkayal dan sejenisnya, tidak mebatalkan puasa.

Oleh Drs Mukhlis Denros

Manusia memiliki kepribadian positif dan negatif yang tercermin pada tingkah laku dalam setiap sepak terjang kehidupan sehari-hari. Sikap positif tampak dalam tindakan patuh, mencari kebenaran, introsfeksi diri, bekerja, mengadakan lapangan kehidupan.

Sedangkan sikap negatif terlihat pada pembangkangan, cendrung kepada perbuatan maksiat, malas bekerja serta membuat kerusakan baik terhadap diri sendiri, keluarga maupun masyarakat.

Nabi Muhammad Saw bersabda dalam hadis yang datang dari Adi bin Hatim yang diriwayatkan oleh Addailami, ”Ada enam hal yang menyebabkan amal kebajikan menjadi sia-sia [tidak berpahala] yaitu sibuk mengurus aib orang lain, keras hati, terlalu cinta kepada dunia, kurang rasa malu, panjang angan-angan dan zalim yang terus menerus di dalam kezalimannya.”

Sibuk meneliti aib orang lain

Dia lebih suka mencari dan menyebarkan keburukan yang terdapat pada orang lain lalu membesar-besarkannya, sementara aib sendiri tidak pernah diperiksa sesuai dengan pepatah lama, ”Kuman di seberang lautan nampak, gajah dipelupuk mata tidak nampak”.

Sebuah riwayat mengisahkan seorang khalifah memperhatikan rakyatnya di tengah malam, lalu dia menemukan dalam sebuah rumah seorang lelaki dan wanita serta minuman khamar yang dihidangkan, dia masuk ke rumah itu dengan memanjat dinding sambil membentak,dan terjadilah dialok.

Khalifah: Hai musuh Allah, apa kau kira Allah akan menutupi kesalahan ini ?

Lelaki: Tuan sendiri jangan tergesa-gesa, juga tuan telah melakukan kesalahan.

Khalifah: Kesalahan apa yang saya perbuat ?

Lelaki: Kesalahan saya hanya satu yaitu apa yang Khalifah lihat sekarang, sedangkan tuan telah melakukan tiga kesalahan yaitu; memata-matai keburukan orang lain, padahal Allah melarang perbuatan itu, masuk rumah orang dengan memanjat dinding, bukankah ada pintu yang harus dilalui dan masuk rumah tanpa izin tuan rumah.

Keras hati

Artinya tidak mau menerima pengajaran yang baik, nasehat yang mengandung maslahat ditolaknya. Tidak suka segala kesalahannya dikritik apalagi dihukumi, dialah yang paling benar, disamping itu hatinya tidak tersentuh oleh penderitaan dan kesedihan orang lain.

Di masa Rasulullah SAW, terdapat suatu kejadian yang membuat semua sahabat bersedih karena matinya salah seorang anggota keluarga dari mereka, bahkan Nabi Saw pun meneteskan air matanya, sahabat-sahabat disekitarnyapun berlinang air matanya, tapi seorang sahabat nampak biasa-biasa saja, sedikitpun dia tidak tersentuh melihat kejadian itu. Lalu dia bertanya kepada Nabi Saw, maka Rasulullah menjawab, ”Itu tandanya hati yang keras”.

Orang yang keras hati cendrung egois, sombong, takabur dan tidak mau menerima kebenaran, karena hatinya telah beku dan tidak terbuka untuk menerima pengajaran yang benar.

Terlalu cinta kepada dunia

Kehidupan dunia hanya sementara sebagai musafir yang berada dalam perjalanan lalu istirahat pada sebuah tempat. Namun tidak sedikit manusia yang beranggapan tempat istirahat sejenak itulah tujuan sehingga lupa akan tujuan semula.

Diprediksi oleh Nabi Muhammad Saw, bahwa nanti pada suatu masa ummat Islam aan dikeroyok oleh ummat lain sebagaimana mereka menghadapi makanan di atas meja, padahal jumlahnya mayoritas tapi kekuatannya ibarat buih di atas lautan, mudah hancur. Saat itu ummat dihinggapi penyakit yang bernama ”Wahn” yaitu suatu bakteri yang meracuni ummat ini sehingga mereka terlalu cinta kepada dunia dan takut akan kematian.

Sedikit rasa malu

Orang yang memiliki sifat ini tidak malu-malu berbuat apapun menurut kemauannya, dosa dan maksiat suatu perbuatan sehari-hari, sedangkan benar dan salah bukan suatu ukuran.

Bila malu habis, maka akan berbuat seenaknya dan beranggapan diri lebih suci dari orang lain. Menurut Abu Hasan Al Mawardi, malu ada tiga macamnya yaitu;

1. malu kepada Allah
2. malu kepada manusia
3. malu kepada diri sendiri.

Panjang angan-angan

Sifat ini menunjukkan kekerdilan manusia, kemauannya lebih tinggi, tidak sesuai dengan kemampuan, dia suka berandai-andai. Ungkapannhya berbunyi, ”Seandainya, andai kata, apabila”. Ia hanya menghabiskan waktunya untuk berangan-angan dan berkhayal yang macam-macam, tapi sama sekali ia tidak berbuat sesuatu. Dia beranggapan bahwa mengkhayal itu benar, khayalan itu enak dan gratis. Orang yang seperti ini ibarat, ”Pungguk merindukan bulan”, atau ”Katak ingin jadi kerbau”.

Perbuatan dzalim yang terus menerus

Watak manusia karena kuat dan kuasa dia melakukan eksploitasi bangsa lain, memeras bawahan dan menindas yang lemah, bila ini dilakukan tidak henti-hentinya, maka akibatnya orangpun terus menerus menanggung dari kezhalimannya. Ahli Hikmat membagi kezhaliman menjadi tiga yaitu ; zhalim kepada Allah dengan Al Fathir ayat 32: “Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang Menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan diantara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. yang demikian itu adalah karunia yang Amat besar.”

Enam sifat inilah yang dapat menghancurkan nilai-nilai ibadah, dia ibarat air di daun keladi, amal yang dilakukan berpahala banyak tapi tertumpah tanpa meninggalkan bekas, bila enam sifat tercela ini terdapat dalam pribadi seseorang, waspadalah atas peringatan Rasulullah Saw tadi.
sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/05/14/ll65i0-enam-sikap-merusak-kepribadian

Penulis adalah Ketua Garda Anak Nagari Sumatera Barat dan Ketua Pembina Yayasan Selasih Solok

Oleh: Abu Nizhan*

Di antara serangkaian kejadian yang harus diimani dan pasti akan terjadi pada hari kiamat nanti adalah hari penghisaban. Hari dimana semua perbuatan dan prilaku manusia, baik yang mukmin dan yang kafir, selama hidup didunia akan dimita pertanggung jawaban dihadapan Allah SWT.

Pada hari itu Allah akan meberikan pertanyaan-pertanyaan yang tentunya semua manusia tidak akan bisa berbohong karena ketika mulut mereka berbohong maka anggota tubuh yang lain akan menjadi saksi dan ikut berbicara, Alquran telah menerangkan apa saja yang akan Allah pertanyakan kepada manusia diakhirat nanti, diantaranya.

Pertama, Khusus bagi orang musyrik dan orang kafir Allah akan mempertanyakan berhala-berhala yang mereka sembah didunia, dimana ketika mereka akan menghadapi siksaan neraka, berhala-berhala yang mereka sembah tidak bisa menolong mereka. Dan dikatakan kepada mereka: “Dimanakah berhala-berhala yang dahulu kamu selalu menyembah(nya) selain dari Allah? Dapatkah mereka menolong kamu atau menolong diri mereka sendiri?” (QS Asy Syu’araa'[26]:92-93)

Kedua, Allah akan menanyakan apa yang dikerjakan manusia sepanjang hidupnya didunia, “ Maka demi Tuhanmu, Kami pasti akan menanyai mereka semua, tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu”. (QS Al Hijr [15]:92-93)

Ketiga, Allah akan menanyakan tentang nikmat-Nya yang selama ini diberikan kepada manusia, apakah manusia itu bersyukur dan menggunakannya dijalan yang diridhai Allah atau apakah mereka kufur nikmat dan menggunakannya untuk bermaksiat dan bermegah-megahan. “Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu)”. (QS At Takaatsur[102]:8)

Keempat, Allah akan menanyakan tentang panca indra, apakah digunakan untuk mengimani dan beribadah Allah atau digunukan untuk inkar dan bermaksiat kepada Allah. “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” (QS Al Israa’ [17]:36). Allah telah memberikan gambaran pertanyaan nanti di akhirat semoga kita mempersiapkan jawaban yang akan diberikan kepada Allah, dan tentunya hanya amalan-amalan kita yang akan menjawabnya. Wallahua`lam bi ash-Shawab

sumber : http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/05/16/ll9jqi-pertanyaan-di-akhirat

REPUBLIKA.CO.ID,
1. Aisyah Menolak Pandangan Umar dan Ibnu Umar
Muhammad ibnul al-Muntasyir berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah tentang apa yang pernah diucapkan oleh Ibnu Umar (sebagai berikut): ‘Saya tidak suka kalau ingin berihram dan pada hari-hari memakai wewangian. Dalam riwayat Muslim disebutkan, ‘Dicat dengan lumpur lebih aku sukai daripada melakukan hal itu.’ Aisyah menjawab, ‘Aku pernah memberi Rasulullah Saw wewangian. Kemudian beliau mengunjungi para istri beliau, dan pada paginya memakai ihram (dalam keadaan pakai wewangian).” (HR Bukhari-Muslim)

Dalam kitab Fathul Bari disebutkan bahwa Said bin Manshur meriwayatkan melalui jalur Abdullah bin Abdullah bin Umar bahwa Aisyah pernah mengatakan tidak mengapa jika dia menyentuh wewangian sewaktu mau melakukan ihram. Said berkata, “Lalu aku panggil seorang lelaki. Ketika itu aku sedang duduk di samping Ibnu Umar. Lelaki itu aku utus kepada Aisyah, padahal aku sudah tahu ucapan Aisyah. Cuma saja aku ingin hal itu juga didengar oleh bapakku. Lantas utusanku datang.

Dia berkata, ‘Aisyah mengatakan tidak mengapa memakai wewangian sewaktu mau berihram. Aku akan buang pendapatmu.’ Said berkata, ‘Ibnu Umar terdiam mendengarkan ucapan laki-laki itu. Begitu pula halnya Salim bin Abdullah bin Umar. Dia menentang bapak dan kakeknya dalam masalah ini karena hadits Aisyah.

Ibnu Uyainah berkata, ‘Umar bin Dinar menceritakan Salim kepada kami bahwa dia menyebutkan perkataan Umar mengenai wewangian. Kemudian dia berkata, ‘Aisyah berkata (lantas dia menyebutkan hadits tadi).’ Salim berkata, ‘Sunnah Rasulullah saw lebih berhak untuk diikuti.”

Al-Hafizh Ibnu Hajar berkata, “Dari hadits tersebut dapat diambil pelajaran bahwa orang yang masih bimbang hendaklah kembali kepada Sunnah. Dengan adanya sunnah, kita tidak lagi memerlukan pendapat tokoh-tokoh. Di dalam sunnah terdapat sesuatu yang memuaskan.”

Di sini terdapat tokoh-tokoh sahabat, yaitu Umar dan Abdullah bin Umar. Keduanya sudah dikenal dengan ilmu dan kelebihannya. Namun tidak ada ‘ishmah (jaminan terbebas dari kesalahan) bagi seseorang selain Rasulullah saw.

2. Aisyah dan Ummu Salamah Menolak Pandangan Abu Hurairah
Abu Bakar bin Abdurrahman ibnul Al-Harits berkata, “Aku pernah mendengar Abu Hurairah ra berkata, ‘Barangsiapa yang pagi-pagi masih dalam keadaan junub, maka sebaiknya dia tidak berpuasa.’ Lalu ucapan Abu Hurairah itu aku sampaikan kepada Abdurrahman ibnul Harits. Ternyata Abdurrahman tidak sependapat. Aku dan Abdurrahman berangkat menemui Aisyah dan Ummu Salamah ra.

Kemudian Abdurrahman menanyakan masalah tersebut kepada kedua wanita itu. Kedua wanita itu berkata, ‘Nabi Saw pernah bangun pagi hari dalam keadaan junub bukan karena bermimpi, lalu beliau berpuasa. ‘Akhirnya kami kembali menemui Abu Hurairah (dan menyampaikan kata-kata Aisyah dan Ummu Salamah itu).’

Abu Hurairah bertanya, ‘Apakah kedua wanita itu yang mengatakannya kepadamu?’ Abdurrahman menjawab, ‘Ya.’ Abu Hurairah lalu berkata, ‘Kedua wanita itu lebih tahu (daripada aku).’

Kemudian Abu Hurairah mengatakan bahwa apa yang dia katakan itu berdasarkan pendapat Fadhal ibnul Abbas. Abu Hurairah berkata, ‘Hal itu aku dengar dari Fadhal dan aku tidak pernah mendengarnya dari Rasulullah Saw.’ Abdurrahman berkata, ‘Akhirnya Abu Hurairah menarik kembali apa yang pernah diucapkannya itu.” (HR Bukhari-Muslim)

3. Aisyah Menentang Pandangan Abdullah bin Amru
Ubaid bin Umar berkata, “Aisyah pernah mendengar bahwa Abdullah bin Amru memerintahkan orang-orang perempuan agar mengurai jalinan rambutnya apabila mereka mandi.

Aisyah berkata, ‘Aneh sekali Ibnu Amru ini. Dia menyuruh kaum wanita supaya menguraikan jalinan rambutnya ketika mandi. Mengapa tidak menyuruh mereka mencukur rambutnya saja sekalian? Aku sendiri pernah mandi bersama Rasulullah Saw dari satu wadah dan aku tidak menyiram kepalaku lebih dari tiga kali siraman. ” (HR Muslim)

4. Aisyah Menentang Pandangan Ibnu Abbas
Ziyad bin Abi Sufyan menulis sepucuk surat kepada Aisyah ra (yang isinya) bahwa Abdullah bin Abbas berkata, ‘Barangsiapa yang membawa hewan sembelihan maka haram atasnya apa yang diharamkan atas orang yang melaksanakan haji hingga dia mengurbankan (menyembelih) hewannya tersebut.’

Lalu Aisyah berkata, ‘Tidak seperti yang dikatakan oleh Ibnu Abbas. Aku pernah memintal kalung hewan sembelihan Rasulullah Saw dengan tanganku. Kemudian Rasulullah sendiri yang mengalungi hewannya dengan tangannya. Kemudian beliau mengirimkannya bersama bapakku. Tidak pernah diharamkan atas Rasulullah saw sesuatu yang dihalalkan Allah hingga beliau menyembelih hewan sembelihannya.” (HR Bukhari)

Disarikan dari kitab Tahrirul Mar’ah fi ‘Ashrir Risalah (Kebebasan Wanita) karya Abdul Halim Abu Syuqqah.

http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/islam-digest/11/05/04/lko0t1-ketika-aisyah-mempertahankan-sunnah-rasulullah

Oleh: Agustiar Nur Akbar

Syariat Islam diturunkan melalui tangan Muhammad SAW. Bukanlah malaikat, melainkan beliau seorang manusia biasa seperti kita. “Katakanlah, Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”. Barang siapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya”. ( QS Al Kahfi [18] : 110).

Dengan tuntunan wahyu tersebut Rasulullah SAW dinobatkan oleh Allah SWT sebagai suri tauladan. “Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah”. (QS Al Ahzab [33] : 21).

Oleh karenanya dalam segala aspek kehidupan Rasullah saw menjadi contoh baik bagi kita. Termasuk dalam masalah rumah tangga.

Layaknya manusia biasa Rasulullah SAW mempunyai sisi romantis. Beliau sangat pandai dan baik dalam memperlakukan istri-istrinya.

Di antara sisi romantis Rasulullah saw, beliau mencium istrinya sebelum keluar untuk shalat. Dari ‘Aisyah Radhiallaahu ‘anha, “Bahwa Nabi SAW mencium sebagian istrinya kemudian keluar menunaikan shalat tanpa berwudhu dahulu”. (HR Ahmad).

Hal ini menunjukan bagaimana Rasulullah SAW mengekspresikan cinta kepada istrinya dengan sederhana dan bersahaja. Hadis ini juga memperlihatkan tentang kelembutan Rasulullah SAW dalam memperlakukan istri-istrinya.

Rasulullah SAW pun senang memanjakan istrinya. Dari ‘Aisyah radhiallahu ‘anha, ia berkata, “Aku pernah mandi dari jinabat bersama Rasulullah saw dengan satu tempat air, tangan kami selalu bergantian mengambil air.” (HR Mutafaqun ‘alaih).

Dalam riwayat Ibnu Hibban menambahkan, “Dan tangan kami bersentuhan”.

Dalam memperlakukan istri-istrinya Rasulullah SAW bukan saja dengan kelembutan. Tak segan-segan Rasulullah saw mengerjakan perkerjaan mereka. Di antaranya mencuci pakaian.

‘Aisyah umul mukminin mengisahkan, “Rasulullah SAWpernah mencuci pakaian bekas kami, lalu keluar untuk menunaikan shalat dengan pakaian tersebut, dan saya masih melihat bekas cucian itu.” (HR Bukhari Muslim).

Bayangkahlah! Muhammad adalah seorang nabi dan rasul. Manusia yang derajatnya ditinggikan Allah SWT. Beliau juga seorang pemimpin umat. Namun tak segan mengerjakan perkerjaan rumah yang biasa dikerjakan oleh perempuan; mencuci baju.

Bukan hanya itu, saat itu masyarakat menganggap perempuan kelas kedua. Bahkan memiliki anak perempuan dianggap sebagai suatu aib. Dan perempuan dianggap najis ketika haid, seperti yang diyakini orang Yahudi. Sehingga tidak berkenan makan bersama dengan wanita haid.

Rasulullah SAW mengajarkan untuk memperlakukan dengan istimewa. Hal itu ditunjukan ketika nabi Muhammad SAW tidak sungkan mandi dari sisa air istrinya. Dari Ibnu Abbas, “Bahwa nabi saw pernah mandi dari air sisa Maimunah.” (HR Muslim).

Semua hal yang dilakukan oleh Rasulullah menunjukan bahwa Rasulullah sangat memahami psikis dan perasaan wanita. Rasulullah SAW pun menghargai persamaan. Wallahu ‘alam bi showwab.

*) Penulis adalah mahasiswa Indonesia yang kini tengah menimba ilmu di Kairo, Mesir.

sumber:http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/11/04/14/ljn4pg-sisi-romantis-rasulullah-saw